![]() |
| sejarah bahasa indonesia |
edukaasimu - Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara sekaligus identitas nasional yang digunakan oleh jutaan masyarakat di seluruh Nusantara. Untuk memahami kedudukannya saat ini, kita perlu menelusuri sejarah bahasa Indonesia, mulai dari asal-usulnya sebagai bahasa Melayu hingga menjadi bahasa persatuan bangsa.
Sejak zaman dahulu, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa perantara (lingua franca) di wilayah perdagangan Nusantara. Sifatnya yang sederhana, mudah dipahami, dan fleksibel menjadikan bahasa ini cepat diterima berbagai suku dan budaya. Dari sinilah asal-usul bahasa Indonesia bermula.
Perjalanan penting bahasa Indonesia mencapai puncaknya pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, ketika para pemuda dari berbagai daerah sepakat menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Keputusan tersebut bukan hanya simbol perjuangan kemerdekaan, tetapi juga fondasi kuat persatuan bangsa yang multikultural.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Bahasa Indonesia diresmikan sebagai bahasa negara melalui UUD 1945 Pasal 36. Pengesahan ini menjadi langkah besar dalam perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemerintahan, pendidikan, komunikasi ilmiah, dan media massa.
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia terus mengalami pembaruan, seperti penetapan EYD 1972, penyempurnaan ejaan melalui EBI 2015, serta munculnya istilah-istilah baru akibat kemajuan teknologi dan komunikasi digital. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa Indonesia selalu dinamis dan mengikuti perubahan zaman.
Hingga kini, Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas dan persatuan. Melalui sejarah panjangnya, bahasa ini membuktikan perannya sebagai perekat bangsa dan media untuk membangun masa depan generasi Indonesia.
1. Ejaan van Ophuijsen
Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut:
1. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
2. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
3. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamai’.
2. Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut:
1. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
4. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.
3. Ejaan Melindo
Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.
4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan(EYD)
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.
Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut:
Perubahan Huruf
Ejaan Soewandi | Ejaan yang Disempurnakan |
djalan, djauh | jalan, jauh |
pajung, laju | payung, layu |
njonja, bunji | nyonya, bunyi |
isjarat, masjarakat | isyarat, masyarakat |
tjukup, tjutji | cukup, cuci |
tarich, achir | tarikh, akhir |
Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.
f maaf, fakir
v valuta, universitas
z zeni, lezat
Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai.
a : b = p : q
Sinar-X
Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.
di- (awalan) | di (kata depan) |
ditulis | di kampus |
dibakar | di rumah |
dilempar | di jalan |
dipikirkan | di sini |
ketua | ke kampus |
kekasih | ke luar negeri |
kehendak | ke atas |
Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.
anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat
Rangkuman Sejarah Perubahan Ejaan Bahasa Indonesia
Di bawah ini, rangkuman bagaimana sejarah ejaan di Indonesia mulai dari edjaan tempo doeloe hingga EYD yang tidak asing di kuping kita:
Van Ophuysen (1901) | Soewandi (1947) | Pembaruan (1957) | Melindo (1959) | Ejaan Baru (1966) | Ejaan yang Disempurnakan (1972) |
j | J | y | y | y | y |
dj | dj | j | j | j | j |
nj | nj | รฑ | ษณ | ny | ny |
sj | - | ล | ล | sy | sy |
tj | tj | - | c | c | c |
ch | - | - | - | kh | kh |
ng | ng | ษณ | ษณ | ng | ng |
z | - | z | z | z | z |
F | - | F | F | F | f |
- | - | V | V | V | v |
รฉ | e | รฉ | รฉ | e | e |
e | e | e | e | e | e |
oe | u | u | u | u | u |
ai | ai | ay | ay | ai | ai |
au | au | aw | aw | au | au |
oi | oi | oy | oy | oi | oi |
Ejaan di Indonesia dari waktu ke waktu (Harimurdi Kridalaksana & Hermina Sutami, 2007) | |||||
dan itu tadi informasi terkait perkembangan ejaan bahasa indonesia. Semoga informasinya bermanfaat dan menambah wawasanmu.

